WENDY MARTANTO

 

                                              Tangkalaluk


Cerita ini merupakan legenda dan mitologi yang kini masih belum ditemukan

keberadaan atau sosok ular yang besar, yang memilih untuk bertapa dan mnyerupai

pohon batang besar, dan siapapun yang mengganggu, makan akan menjadi bojon/ gila bahkan menyebabkan kematian

 Tokoh

Apang, indang, anak pertama, anak kedua, warga-warga, sesepuh

 Seting awal : di halaman rumah

Awal : tarian menggambarkan aktivitas warga mempersiapkan makanan pokok untuk dibawa ke ladang

 Apang: uuuu pahari ku semuanya, bagaimana pekerjaan kalian?

 Warga-warga : uuuyyy lagi dikerjakan ini saudara

 Indang: sabar, ini lagi kami kerjakan tinggal sedikit lagi

 Apang: ohhh iya, uuuu anaku, tolong siapkan makanan dan minimun untuk om tante mu yang sedang kerja ini, biar nanti setelah selesai bisa istirahat dan makan bersama


Anak 1 : Iyoh apang, ini lagi kami berdua kerjakan tinggal menunggu ikan dan sayurnya masak

 Apang: oh iya, memang pintar anak ku berdua ini (sambil tersenyum)

 Indang: siapa dulu mmhnya yang ngajarin dan mendidiknya Warga” : iya oleh ibunya juga yang rajin

Anak-anak: uuuu apang, indang, mina mama ini sudah disediakan makanan dan minuman, mari makan,

 Apang: yuuu oleh pekerjaan kita selesai kita makan” Dulu

 Warga”: iyohhh,

 Indang: yuuu pahari kita makan dulu

 Mereka pun makan” Dan setelah makan mereka pulang ke tempat Masing-masing untuk beristirahat dan besok pagi mereka akan pergi ke ladang

 Black out

 Hari pun berganti mereka pun siap” Mempersiapkan barang yang akan mereka bawa untuk keperluan beberapa hari diladang

 Apang : uy pahari ku, bagaimana apakah semuanya sudah dipersiapkan?

Warga” : sudah pahari, nunggu waktunya berangkat ja ini

 Indang: sebelum kita berangkat kita makan dulu, oleh perjalanan kita lumayan jauh

 Warga: iyuh pahari, yuuu kita makan dulu pahari

 Setelah beberapa waktu mereka sudah makan mereka pun siap” Untuk memulai perjalanan

 Apang: yu pahari kalau semuanya sudah siap kita berangkat saja, biar nanti cepat sampai ke ladang

 Warga”: yyuuu kalau siap kita berangkat aja pahari, biar cepat kita beristirahat nanti

 Warga”: iya benar juga biar, ayu pahari” Kita sama membawa barang” Ini

 Merekapun memulai perjalanan dengan tarian pengiring melakukan perjalanan ke ladang

Cahaya redup lanjut arian kontemporer menggambarkan suasanan hutan Black out

 Pada esok harinya mereka mulai melakukan aktivasi membuka lahan apang dan bekerja seperti menebas dan menebang pohon

 Apang : ayooo saudara- saudara sekalian mari kita memulai pekerjaan kita, biar cepat selesai dalam beberapa hari

 Warga: iyaa pahari mau berangkat juga ini, ayu pahari yang lain kita berangkat

Apang: indang kamu sama Anak-anak di pondok saja untuk menyiapkan makanan untuk makan siang nanti

Nanti dibantu sebagian ya pahari ku...

 Indang: iyuh apang, tenang saja semuanya nanti kami persiapkan

 Anak-anak: iyaa apang, nanti kami dua juga bantu-bantu menyiapkannya Apang: nanti tolong antarkan air minum untuk kami ya

Anak-anak: iya apang

 Warga: yuu kalau gitu kita berangkat saja

 Warga-warga: yaaa ini juga udah siap

 Indang: apang Hati-hati yaaa.. Bekerja sambil lihat kiri kanan, pahari samandiai juga Hati-hati ya

Apang: iyuuhh indang kami berangkat duluu

 Indang: iyaa Hati-hati

 Mereka pun mulai berangkat dan memulai pekerjaan membantu apang membuka lahan untuk berladang

 Warga” : besar juga luas lahan mu ini apang, akan lama kita selesaikan

 Warga: iya sungguh besar, tapi kita harus semangat biar cepat selesai

Apang: iyaaa paharikuu semunya, lahan ku tahun ini memang lumayan luas

 Warga: semoga nanti berladang dengan panen yang banyak ya pahari

 Apang: amin... Pahari, nanti kita sama-sama lagi untuk melakukan proses penanaman kalau lahan ini sudah siap untuk berladang

 Warga: iya pahari, kami ini siap aja untuk membantu selagi kami diajak untuk berladang

Apang: are terimakasih kawan pahari

Mereka pun terus memulakan pekerjaan mereka masing-masing, dan haripun mulai terik dengan cuaca panas yang sangat luar biasa

Apang: hari ini makin terik, kita istirahat saja pahari” Ku, sembari menunggu anakku mengantarkan air minum

Warga: iya pahari, sangat lelah oleh cuaca yang panas ini

Warga”: yu pahari ku semuanya, kita neduh dulu, tidak sanggup cuaca panas begini

 Apang: yuuuu kita istirahat disana saja, oleh ada pohon yang besar, bisa kita tidur atau duduk diatasnya

 Warga: iya barang saja pahari

 Apang: ayo kesini pahari ( sambil berjalan dan duduk diatas pohon besar yang tumbang, dan menancapkan parang nya di pohon itu)

Setelah beberapa saat anak-anaknya datang membawa air minum untuk mereka

 Anak” : apang... Mina.. Mana... Ini kami membawa air minum

 Apang: uyy... Ayo bawa kesini nak, sudah haus kami mina mama mu di sini

 Warga: yuuu.. Bawa ke sini

Pintar anak pahari ini, bisa di minta tolong dan bekerja

 Apang: kalau mereka tidak bekerja buat apa juga kami bawa ke ladang

 Warga: iya benar juga pahari

 Anak” : ini apang, mina, mama, minum dulu hari ini sungguh panas sekali

 Apang: iya kak simpan di situ biar mina, mama mu bisa minum dulu(sambil menaroh galon air dan mereka mengambil minum secukupnya)

 Warga: yooo kita lanjut lagi, mumpung terang, nanti kalau sudah sore susah kita menebas ataupun menebang pohon

 Apang: ayo kalau gitu kita lanjut, anak” Ku kalian berdua langsung pulang saja bawa galon dan gelas

 Anak” : iyaa apang ( langsung bergegas kembali pulang)

Apang: ayoo kita lanjut pahari ( sembari mengambil parang yang ditancapkan di batang pohon yang besar

( tanpa menyadari ada hal aneh yang keluar dari batang pohon itu dan melanjutkan pekerjaan mereka)

 Warga: yuuu kita bekerja pahari

 Akibat dari tancapan parang yang di batang pohon besar yang tumbang itu, yang ternyata merupakan sewkor ular yang sudah tua yang telah bertapa hingga tumbuh lumut dan menyerupai pohon, hari pun seketika itu berubah menjadi gelap dan bunyi Guntur dan petir mereka pun kaget dan heran

Warga: kenapa hari ini timbul menjadi gelap, ada apakah ini????

 Apang: kenapa hari ini berubah seketika pahari

 Warga: kurang tau juga, kita pulang saja pahari, takut pohon segala tumbang

 Apang: ayooo pahari ku smuanya kita pulang saja

 Warga: iyaa mari kita pulangMereka pun bergegas pulang dan sampai di pondok hari pun baru menjelang petang (black out)

 Warga: kenapa disini masih baru sore

 Apang: uuuu Indang tadi apakah disini mau hujan?

 Indang: tidak ada apang di sini cuacanya tetap terang saja

Warga: kenapa tadi tempat kita berubah mau hujan???

 Apang: mungkin cuacanya tidak merata

 Indang: mungkin..

Ayooo kalian mandi bersih” Biar kita cepat makan bersama dan beristirahat

Warga: iyaa pahari, ini mau ke sungai juga

 Apang: sediakan makanan ya Indang, biar nanti kita langsung makan dan bisa istirahat

 Indang: iya apang ini sudah semua, tinggal nanti diangkat untuk disuguhkan

 Apang: ohhh iya Indang, aku mau mandi dulu

 Setelah mereka selesai mandi dan berpakaian mereka pun makan bersama

 Indang: ayuuu apang, pahari ku semuanya kita makan dulu, biar kalian nanti cepat beristirahat, besok memulai pekerjaan lagi

Apang: iyuhhh Indang, yo kawan pahari ku semuanya kita makan dulu

Warga: iyoohhh apang( sambil menuju tempat makan dan mereka pun makan dan beristirahat)

Keesokan paginya apang bangun , terus memikirkan tentang mimpi nya semalam bertemu dengan seekor ular yang sangat besar yang marah akibat parang yang

dirancapkan hingga berdarah, nggak lama tiba” Apang demam yang sangat tinggi dan muntah

Sampai membuat semuanya terkejut

 Indang: kenapa kamu apang Kenapa kamu.....

 Apang: nggak tau juga indang uhukk.. Uhukk..... Tiba- tiba panas dan muntah begini

Warga: sebentar aku periksa

 Indang: kenapa lagi kamu nah apang, timbul begini

 Warga: ini ada yang kurang beres, bagaimana kita kembali ke kampung dulu Sementara

 Indang”: bisa ja pahari, daripada nanti kenapa-napa, ayu anak ku kita pulang semua hari ini, ayu pahari ku bantu angkat suamiku

 Warga: iyuhh pahari, nanti kami yang bantu bawa

 Mereka pun bergegas pulang ke kampung... Tarian kesakitan

Setelah beberapa waktu mereka pun sampai di kampung dan Indang langsung mencari pertolongan black out

Warga: uyyy pahari, kamu tolong panggilkan sesepuh desa untuk coba menolong suamimu ini

 Indang: iyohhh pahari, aku berangkat dulu ke tempat sesepuh, tolong jaga suamiku duluu( berlari ke tempat sesepuh)

Warga: apa yang terjadi dengan mu pahari hingga begini, apakah kamu ada sesuatu yang kamu perbuat

 Apang: aku uhuk... Juga nggak tauuu uhukk....

 Warga: ada-ada saja penyakit yang muncul

Indang: ini sudah datang sesepuh ni, silakan mina kamu periksa suami ku ini

 Sesepuh: iyaa sebentar, apa yang terjadi hingga begini, apakah kamu ada melakukan sesuatu

Apang: nggak ada mian uhuk.. Tapi aku ada mimpi uhukk..... Bertemu ular besar dia

marah karena aku melukainya

 Sesepuh: bagaimana bisa terjadi dan kamu melukainya, masa kamu tidak melihat kalau itu ular besar

Warga: apa mungkin batang kayu yang besar tempat kita beristirahat, oleh kami duduk disitu mian

 Apang: bujur itu mina uhukkkk........ Begitu yang terjadi di mimpiku semalam

Sesepuh desa: astagaa.. Nanti mina coba menyembuhkan boleh minta air dan siapkan segala untuk memapas

Indang: iyaa mina, ayo pahari bantu aku siapkan

Apang: (gemeteran dan meminta ampunnn) tuhaannn.... Bantu aku tuhann....

Indang: ini mina

Sesepuh: iyaaa ( sambil mengambil dan memulai ritual untuk mencoba menyembuhkan / meredakan sakit yang di rasakan apang)

 Indang: yang kuat suamiku..... Berdoaa

 Anak-anak: apang kuat... Apang sembuh.... (Sambil menangis melihat ayahnya yang

menahan kesakitan)

 Apang: iyohhh istriku, anaku,

 Warga: kuat pahari...

(Sesepuh sambil melakukan ritual) sudah kulakukan semaksimal aku pahari, kita sambil liat kondisi suamimu

 Indang: iyohhh mina....

( tak lama kemudian kondisi apang pun semakin lemah dan tak berdaya hingga apang mengakhiri hidupnya)

 Apang: istriku jaga anak” Kita betu-betul

Indang: kenapa bicara seperti itu suamiku..... Kamu harus kuat

Apang: mungkin ini takdir kuuuu( sambil menghela nafas untuk terakhir kalinya Aang pun meninggal dunia)

Indang: suamiku ( menangis histeris)

Anak: apangg.... Apang bangunn ( mengis histeris)

 Black out

 

Komentar